Mengangkat Batik Alam Trenggalek ke Panggung Dunia

0

Dahulu, Trenggalek identik dengan hasil marmer alam yang berkualitas tinggi. Kini, diversifikasi kreativitas dan pemanfaatan berkah kultural telah menyertainya, di antaranya adalah kain batik alam khas Trenggalek.

Adalah Lia Afiff, desainer busana muslimah yang coba melakukan eksplorasi wastra nusantara lewat batik trenggalek. Kabupaten yang berada di Jawa bagian selatan dan berujung di Samudra Indonesia ini dalam waktu terakhir telah melirik kreativitas kultural sebagai sumber identitas maupun potensi devisa. Di antaranya lewat kain batik.

Batik warna alam yang relatif ramah lingkungan inilah yang ditampilkan oleh Lia Afiff, desainer kelahiran Malang dan kini berkarya di Surabaya ini membawanya ke panggung dunia, yakni London Fashion Week 2018 pada 16-20 Februari 2018 di UK. Bentang geografis yang juga teberkahi oleh aneka kreasi cultural tersebut cukup menjadi alasan untuk dipersembahkan kepada khalayak dunia.

“Motif batik trenggalek cukup kaya. Saya mengangkat motif khas seperti motif cengkeh, motif durian, motif manggis, motif jaranan turangga yakso,” ujar anggota APPMI Jawa Timur dan juga desainer yang tergabung dalam modest fashion ini. Pengangkatan motif batik trenggalek pun tak bisa dilepaskan oleh dorongan kuat dari petinggi Trenggalek, utamanya adalah istri wakil walikota Trenggalek yang juga seorang model, Novita Hardini.

Pemda Trenggalek pun memfasilitasinya dengan membawa Lia Afiff kepada pemotretan di situs bersejarah, yakni Pabrik Kopi Van Dillem yang berada di kaki Guning Wilis. Tentunya, ini masih langkah awal, karena betapa banyaknya objek wisata bersejarah maupun wisata alam yang berada di kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Ponorogo maupun Kabupaten Tulungagung ini.

Tampilan Etnik-Modern nan Elegan

Di tangan Lia, aneka motif batik trenggalek ini disentuhnya agar layak ditampilkan di panggung antabangsa di negeri Inggris. Bagi Lia, aneka panggung fashion di luar negeri sudah sering dijelajahinya. Aneka jenis kain, oleh Lia, pasti akan dipadukan dengan passion dirinya yang melekatkan pada nuansa etnik.

Lia coba memadukan aneka motif kain batik itu dengan konsep yang kuat, disofistikasi sedemikian rupa, sehingga tampil elegan di panggung dunia. Diterimanya rancangan Lia di fashion scout ini, tentunya menjadi kabar gembira karena secara otomatis, busana muslim dari paduan batik trenggalek dan kain kontemporer turut diterima oleh khalayak  mondial.

Tak semata sebagai eksebisi kultural, Pemda Trenggalek juga memanfaatkan ajang fashion internasional tersebut sebagai upaya pembangkitan daya-kreasi pembatik lokal ke dalam kancah bisnis. Alhasil, kerjasama antara desainer andal, pembatik lokal maupun dukungan Pemda setempat, akan menjadikan karya anak bangsa, khususnya perajin di Trenggalek, bergulir menjadi kekuatan ekonomi.

Kali ini, kreativitas kultural akan mengisi hari-hari Trenggalek, bukan saja sebagai sumber identitas maupun tengara budaya, melainkan pula sebagai upaya pemakmuran dan penyejahteraan para insan kreatif yang bergerak di industri busana ini. Semoga. Wakhid

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here