Busana Maskulin di Hari Keempat JFW 2019

2

“I don’t design clothes. I design dreams.” —Ralph Lauren

Setelah tiga hari para pengunjung dan pemerhati Jogjakarta Fashion Week 2019 dimanjakan oleh aneka busana wanita, pada hari keempat, 8 desainer menyajikan busana pria dengan segenap temanya.

Tema-tema itulah yang sesungguhnya menghidupkan nyawa dan ruh fashion. Perayaan kegembiraan, bahkan kesedihan, dalam olah fashion akan menjadi catatan yang terbawa zaman. Bila pun mengendap, nanti aka nada yang membangkitkan lagi pada pustaka lampau itu.

Pementasan hari keempat JFW 2019 menawarkan aneka busana kaum adam: busana model ksatria-prajurit, bertema futuristik serta membawakan kehidupan yang polutif, ada yang membawa alam kesantrian, dan juga memotret semangat fashion kontemporer.

Satu hal yang mempersamakan, para desainer menerapkan celana panjang maupun sarung dalam stilisasi, baik dalam pola wiru, pleats, sebagai gaya berbusana kaum adam ini. Pengenalan sarung yang distilisasi sehingga fashionable pertama-tama memang digagas oleh para desainer yang tergabung dalam IFC.

Philip Iswardono yang juga chairman IFC DIY, membawakan tema “Omotesandȏ”. Omotesandȏ merupakan kawasan pedestrian elite Jepang yang membentang dari Stasiun Omotesandȏ hingga Kuil Meiji Jingu.

Tebaran rumah mode menjadi inspirasi Philip untuk menampilkan busana Jepang tradisional ala bangsawan dan prajurit Jepang berbalut dengan sentuhan modern berupa celana maupun sarung serta aksentuasi phasmina dalam cutting simetris maupun asimetris yang menarik, dan dengan dukungan bahan batik maupun kain kontemporer lainnya.

 

Priyo Octaviano menyajikan busana prajurit perang. Warna-warna cenderung gelap, tegas dan teraan aksentuasi zirah memperlihatkan gambaran busana megah berkewibawaan. Tampak sangar, maskulin, namun tetap menampilkan elegansi seorang yang tegap-gagah.

Al.dri.e  menyajikan busana-busana pria dalam warna kegap dan kelabu, dan dia melampirkan alat penutup wajah. Ia tampaknya hendak menggugah kesadaran lingkungan dengan aneka busananya, baik dalam tuksedo maupun kemeja, bahwa udara tak sehat penuh polusi merupakan tantangan masyarakat modern yang terindustrialisasi secara massif.

Inin Shilviana NH dari The Kilisuci menyajikan warna cerah maupun tajam-pekat penuh kewibawaan. Jadilah Inin membesut busana tradisional ala kaum santri yang bersarung batik ikat kepala menyerupai sorban, sedang busana lainnya tampil dalam busana kaum bangsawan yang tengah mengenakan uniform kebanggaannya, dan busana formil. Tak lupa Inin menyelipkan tunik panjang dengan paduan kontras trunks.

Desainer asal Pekalongan, Zikin, menyajikan aneka busana atasan dengan bawahan yang dominan sarung dalam aneka stilisasi.    

Helmut Brunel, aktor dan desainer busana pria asal Munchen, Jerman yang menetap di Bali, menyajikan maskulinitas dalam ragam busananya. Bawahan sarung, trunk, maupun trouser yang dipadu dengan atasan berupa blazer, kemeja, kaos, maupun atasan etnik menjadikan kreasinya tampil nyentrik dan penuh kejutan.

Erna Eng lewat the Icon menyajikan celana tiga perempat, sarung, maupun celana pendek yang dipadu dengan kemeja, tunik, yang sebagian ditautkan dengan kain etnik.

Sementara Ichwan Thoha memainkan bawahan yang sporty yang dipadu dengan aneka atasan, seperti baju longgar, tuksedo warna nonmainstream, dan blazer yang memberi aksentuasi pada kemeja.

Sajian penuh elegansi yang diiringi oleh lagu maupun motif batik klasik Jawa dipaparkan oleh Afif Syakur, yang juga project officer JFW 2019. Desainer senior asal Jogja ini mentranformasikan kode busana kaum santri berupa peci dan sarung.

Afif menggerakkan rancangan kreatifnya dengan stilisasi modern dan futuristik. Namun dalam hal bahan, ia tetap menyertakan wastra batik Jogja sebagai warisan kultural yang tidak boleh ditinggalkan. Justru kemajuan yang berbasis pada tradisi akan memberkahi kebudayaan yang bersangkutan. Secara ekonomis menguntungkan, dan secara identitas, menjadi komunitas yang memiliki jatidiri.

Pementasan busana pria pada hari keempat JFW 2019 itu menjadi penutup acara. Para pelaku industry busana layak mengaplikasikan petuah Ralph Lauren, “Saya tidak merancang busana. Saya merancang impian.

Teks: Wakhid; Foto:Ade Oyot

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here