Citilink dukung Potensi Bumi Sukowati

0
20131003-Citilink-Airbus-A320-Sharklets-3
doc : google / jauhdekat.com

Kabupaten Sragen adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Sekitar 30 km sebelah timur Kota Surakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan di utara, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di timur, Kabupaten Karanganyar di selatan, serta Kabupaten Boyolali di barat.

Kabupaten ini dikenal dengan sebutan “Bumi Sukowati”, nama yang digunakan sejak masa kekuasaan Kerajaan (Kasunanan) Surakarta. Nama Sragen dipakai karena pusat pemerintahan berada di Sragen.

Salah satu Potensi Wisata dikabupaten Sragen adalah Museum Purbakala Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.

Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini. Relatif utuh pula. Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan.

Selain Musium sangiran Sragen dikenal dengan sentra produksi batik terbesar setelah Pekalongan dan Surakarta. Di Sragen, terdapat dua sub sentra batik yakni Kecamatan Plupuh dan Masaran. Dua sub sentra tersebut memiliki beberapa desa penghasil batik. Letak mereka pun berdekatan, saling berseberangan di sisi utara dan selatan Sungai Bengawan Solo.

Karena berada di pinggiran sungai atau kali dalam bahasa Jawa, industri Batik di kawasan tersebut juga dikenal dengan sebutan Batik Girli (Pinggir Kali). Di dua sub sentra batik tersebut terdapat 4.817 perajin batik dengan menyerap sekurangnya 7.072 tenaga kerja.

Sebagian besar perajin batik tinggal di desa Kliwonan. Kuantitas produksi batik yang dihasilkan perajin Kliwonan pun paling besar. Oleh sebab itu, kawasan penghasil batik di Sragen kemudian lebih dikenal dengan sebutan sentra batik Kliwonan. Pemerintah Kabupaten Sragen lalu menetapkan sentra batik itu sebagai kawasan wisata terpadu, yang dinamakan Desa Wisata Batik Kliwonan. Desa Kliwonan sekaligus diditetapkan menjadi pusat pengembangan, pelatihan, dan pemasaran batik. Desa wisata batik terletak 13 kilometer dari pusat kota Kabupaten Sragen dan telah dilengkapi dengan infrastruktur dan sarana publik yang memadai.

Batik Sragen awal mulanya identik dengan batik Surakarta, terutama di era 80-an. Ini tak mengherankan, sebab para pionir kerajinan batik di Sragen umumnya pernah bekerja sebagai buruh batik di perusahaan milik juragan batik Surakarta. Namun kemudian, batik Sragen berhasil membentuk ciri khas yang berbeda dari gaya Yogyakarta dan Surakarta.

Lahirnya motif tersebut tidak lepas dari pengaruh karakter masyarakat Sragen yang pada dasarnya terbuka dan blak-blakan dalam mengekspresikan isi hati. Batik Sragen lebih kaya dengan ornamen flora dan fauna. Ada kalanya dikombinasi dengan motif baku. Jadilah, motif tumbuhan atau hewan yang disusupi motif baku seperti parang, sidoluhur, dan lain sebagainya. Belakangan ini beberapa perajin mulai mencoba menelurkan motif baru yang isinya merekam aktivitas keseharian masyarakat. Guratan motif batik Sragen dewasa ini cenderung menyiratkan makna secara tegas.

Di desa wisata batik Kliwonan, wisatawan dapat dengan mudah membedakan batik Sragen dengan motif batik dari daerah lainnya. Para perajin batik di Kliwonan biasa menuangkan karyanya ke berbagai jenis kain dengan berbagai teknik produksi. Jenis kain yang digunakan antara lain sutera yang ditenun dengan mesin maupun manual, katun, dan primisma. Perajin di Sragen umumnya memproduksi batik dengan teknik tulis, cap, printing, dan kombinasinya. Namun, sebagian besar perajin masih mempertahankan teknik tulis di atas kain primisma. Teknik tradisional ini menunjukkan kemampuan luar biasa batik tulis Sragen dalam bertahan di era modern ini. Masih dipegangnya cara tradisional para pembatik di kawasan Kliwonan ini merupakan eksotisme yang langka dijumpai. Inilah daya tarik desa wisata batik Kliwonan.

Menelusuri ke-istimewaan kabupaten Ngawi

Sebagai salah satu kabupaten yang berada di perbatasana antar propinsi jawa tengah dengan jawa timur, juga sebagai salah satu kapbupaten yang kaya akan nilai sejarah dan potensi yang ada, seperti sebagai kota yang bersejarah terutama sebagai salah satu dimana di temukan nya kerangka manusia purba dengan nama manusia trinil dan juga daerah penghasil teh satu- satunya di jawa timur.

Kabupaten ngawi mempunyai lokasi wisata yang menarik yaitu pemandangan sepanjang  lokasi Benteng Pendem merupakan benteng bekas Belanda, Dibawah Pimpinana Van den Bosch, yang berada di bawah tiga sungai mengelilingi benteng tersebut ,sarat akan nilai sejarah berusia ratusan tahun.

Bagi anda yang suka traveling mungkin belum lengkap rasanya sebelum mengunjungi Kabupaten ngawi dan yang suka berbelanja anda bisa beraneka ragam Batik Ngawi yang mempunyai ciki serta motif batik yang sangat berbeda dengan batik yang telah ada. Salah satu industri rumah tangga yang sedang berkembang di dua Kecamatan yaitu di Desa Munggut Kecamatan Padas dan Desa Banyu Biru kecamatan Ngrambe.Batik motif Ngawi ini dibuat dengan teknologi batik tulis. Dengan mengusung ciri khas Ngawi, yaitu padi, bambu dan manusia purba (palu purba).

Berkunjung ke Ngawi sepertinya tidak lengkap tampa menyaksikan  Dimana ditemukanya daerah manusia Purba dengan nama trinil ,sebagai salah satu kabupaten yang berada di jawa timur.

Potensi wisata dan Industri Batik di kedua kabupaten tersebut kini dikembangkan dan dikampanyekan secara nasional. Salah satu Event yang dicanangkan oleh Kabupaten sragen untuk Tahun Perdana dinamakan Sragen Fashion Batik & Craff 2015, sedangkangkan untuk Kabupaten Ngawi adalah Ngawi Batik Fashion yang Tahun ini memasuki tahun ke IV.

Event Fashion dengan Skala Nasional ini melibatkan Media Nasional, Designer serta Bintang Tamu Miss Eart 2015 dan Putri Pariwisara 2015. Mereka terbang dari Jakarta dengan mengunakan Maskapai Citilink, yang merupakan anak perusahan Penerbangan Milik Negara, perusahan Penerbangan Garuda, yang telah berpengalaman dibidang penerbangan nasional baik internasional.

Sengaja Team kami memilih Citilink dikarenakan sangat memudahkan keberangkatan dengan segala fasilitas yang telah disiapkan bagi penumpang Citilink. Maskapai penerbangan nasional berbiaya murah (LCC) dengan layanan awak cabin  ramah selalu senyum  di tambah dengan pantun yang tidak di jumpai di penerbangan lain,dengan kenyaman pesawat airbus A320. Pesawat Airbus A320 yang dioperasikan  ini memiliki jenis sayap ‘sharklet’, material berteknologi tinggi yang biasa digunakan untuk pembuatan kapal dan kapal selam. Dirancang pabrikannya dengan material dan fungsi yang lebih ramah lingkungan, pesawat ini memiliki tingkat kebisingan yang sangat rendah (sampai 15 desibel dibawah stage 4 standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional – ICAO). Selain itu, kombinasi mesin baru dan sayap sharklet mampu menghemat bahan bakar hingga 15 persen dari konsumsi umumnya pesawat terbaru  dalam penerbangan yang membawa kami ke solo, yang sebelumnya telah melayani 152 frekuensi penerbangan setiap hari ke 24 kota.

Dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, pengalaman luar biasa  adalah ketika mendapati bahwa saya bisa terbang bersama pesawat terbang citiilink, dan ini merupakan pengalaman yang memberikan kesan kenyaman dengan tempat duduk yang berkesan lapang.

Dukungan penerbangan Citilink terhadap kedua event tersebut sudah tentu kelihatan sekali dimana Pihak Managemen Citilink sangat mendukung  perkembangan Industri Fashion di tanah air. Nah  pengalaman menyenangkan itu tentu akan  terulangi  pada tahun mendatang. teks : harmen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here