Eksplorasi Wastra Nusantara dalam Fashion Symphony 2018

0
Photo by Ade_Oyot

Kampanye meningkatkan cinta produk dalam negeri terpapar nyata dalam kolaborasi desainer yang diselenggarakan oleh DPC IWAPI Jakarta Selatan.

Perhelatan fashion kali kedua oleh IWAPI Jaksel telah berlangsung pada Rabu, 29 Agustus 2018 di Sheraton Grand Ballroom, Gandaria City, Jakarta Selatan. Dalam nuansa tenun nusatenggara timur yang mendominasi panggung peragaan, 20 desainer yang juga merupakan anggota IWAPI Jakarta Selatan ini menampilkan karya-karya terbarunya.

Kali ini, sebagian besar desainer menggunakan wastra etnis dari aneka penjuru Nusantara sebagai wahana kreasinya.

Dalam tema “Heritage of NTT”, Julie Laiskodat menampilkan busana etnik ini dalam elegansi busana modern. Julie yang merupakan empunya JSL LeVico tampak mempersembahkan tenun bumi NTT. Aneka busana warna bold nan menarik, baik dalam cutting maupun model busana kontemporer, tampil bersuar dengan keindahannya.

Reni Kusumawardani, pemilik Mari Berkain, mengeksplorasi aplikasi materi batik kawung dengan aneka kain kontemporer lainnya dalam tema “Seruni”. Dirinya coba menyentuh kembali inspirasi keindahan batik encim dengan dukungan warna paduan, putij, biru dan merah yang menyiratkan keceriaan.  Sementara Yurita Pudji dan Nunu Datau dengan brand Azuura Indonesia menjelajahi eksotisme sulam karawo asal Gorontalo dalam bentuk ready to wear-nya, baik dalam dua maupun satu  potongan.

Nengmas Kids Batik yang diampu oleh Poetrie Hanjani mempersembahkan kain katun primisima berbatik sebagai pilihan kreativiitasnya. Disemangati oleh api Asian Games 2018, ia menawarkan tema “Twirl Tik” yang disimbolkan oleh gangsing berputar penuh keseimbangan dan jeda saat kolecer tengah di puncak. Berefleksilah diri, begitu gurat pesan narasi kainnya.

Caki Zoehra rupanya tak beranjak jauh dari brand-nya, Saroengan. Lewat konsep “Seni Gerakan Kehidupan”, Zoehra memuji perempuan yang bergerak lincah, tangkas, namun dalam kelembutan di tengah kota yang hectic-dinamis. Busana model sarung yang cut sporty, over size, asimetris, dalam warna hitam dan putih, terdetail dalam pesnona kuning mustard. Sedangkan Andani Agniputri dan Esti Martrita menyajikan busana wanita segala umur lewat “Breath in Lurik”. Dua empu brand Nona ini coba mentransformasikan kain tradisional lurik dalam citra rasa modern dan nyaman dikenakan.

Koleksi cantik tenun NTT dieksplorasi secara kreatif oleh Priscilla Margie dalam “Beautiful of Tenun”, dalam hal ini tenun sumba, dalam rancang-rupa busana muslim. Ia berharap, koleksi etniknya ini dipakai para muslimah kala berada di luar negeri, sebagai upaya mempromosikan budaya busana religi khas Indonesia. Ulupi Hastuti, pemilik House of Pipie, menampilkan busana “Rona Cita Celup Sutra”. Ia memanfaatkan sutra putih yang diberi pewarnaan melalui jumputan, sesirangan, shibori. Aneka pola busana besutannya memperlihatkan rona keceriaan.

Roemah Katumbiri menjadi perpanjangan kreativitas Dinie Lestari. Katumbiri yang berarti pelangi dalam bahasa Sunda, dioptimalkan olehnya sebagai upaya merawat para perajin kain tradisional dengan cara mengolah wastra etnik nusantara, seperti bordir, batik jawa, jumputan Palembang, tenun ntt, songket bali, ulos sedum dari batak, dan sebagainya.

Vielga dari Roemah Kebaya memamerkan kreasi kebaya dalam panggung fashion ini, sementara Mareta Artuti menawarkan potongan asimetris dan permainan warna, demi tampil yang berani keluar dari pakem. Dan Adinda Moeda dengan brand House of Shiloh menjelajahi tenun boti, NTT untuk rancangan-rancangan kasualnya. Adinda secara pribadi terpesona kepada suku Boti. Suku yang tinggal Kabupaten Kie, Pulau Timor ini hidup kukuh dalam tradisionalitasnya, meskipun modernitas senantiasa menghampiri.

Indira Hadi yang mengakui rasa cintanya yang besar kepada warisan leluhur, mengangkat tenun badui dan baik tulis dalam tema “Satu Kain Sejuta Cinta”jarit yang menjadi brand Indira menekankan konsistensi dalam penggunaan warna alam. Jani Wirjawan yang menyenandungkan “every leaf speaks bliss to me” menggemakan keunikan tradisionalitas yang tetap bergeliat dalam era modernitas. Jeany Wang yang ahli dalam pembuatan aksesori mutiara, batu alam, amber, Kristal, maupun koral, namun juga seorang desainer busana, kali ini menggali keindahan sebuah dataran tinggi yang berada di sekitar Danau Toba dalam tajuk “Bunga Simalungun”. Ia memadupadankan kain lace dan tenun simalungun sebagai busana yang nyaman dikenakan.

Dewi R. Usman mengenalkan koleksi mutiara (air tawar, air laut, dan shell) geometris, yakni bentuk lingkaran, kotak, segitiga yang diaplikasikan dalam motif batik nusantara. Shanti Gita, empunya Sageeta Bags, menawarkan koleksi tas etnik yang dipadukan dengan kain tenun khas NTT, sementara Sylvi Butt, dengan brand Sylvo Python Leather bergerak dalam aksesori khas reptil; dan Moza Pramita, menawarkan bulu mata by Mpza, yang diklaim dipakai oleh fashionista Indonesia, sepeti Saran Sechan, Ayu Dewi, dan beberapa nama beken lainnya. W/H

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here