METAMORPHOSEAST

0

Tanimbar yang terletak di Kabupaten Maluku Tenggara Barat memiliki kain tradisional tenun ikat. Motif dan warna tenun Tanimbar cukup beragam. Mayoritas berciri garis yang diselingi dengan corak yang umumnya diadaptasi dari alam dan aktivitas sekitarnya.

Tenun ikat Tanimbar dihasilkan oleh para pengrajin tenun perempuan yang berusia tak muda lagi, dengan jumlah penenun yang semakin sedikit. Aktivitas menenun semakin banyak ditinggalkan seiring dengan anggapan bahwa tenun ikat tak lagi memberikan peluang ekonomi yang menjanjikan. Kondisi inilah yang membuat tenun Tanimbar terbilang kurang dikenal secara luas dibandingkan dengan tenun ikat dari daerah lain.

Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat tergerak membangkitkan kembali tradisi setempat dengan menggandeng desainer Wignyo Rahadi untuk melakukan revitalisasi terhadap tenun Tanimbar. Pelatihan pengembangan tenun Tanimbar ditujukan untuk melestarikan kearifan lokal tersebut agar punya daya pakai dan daya jual lebih tinggi sehingga dapat mengikuti dinamika era yang semakin modern dan dikenal secara luas, papar Wignyo Rahadi, desainer brand Tenun Gaya.

Sejak tahun 2015, Wignyo Rahadi melakukan pendampingan terhadap para perempuan pengrajin tenun di Tanimbar untuk mengembangkan tenun Tanimbar yang semula tampak kaku, terasa berat, dan warna yang rentan luntur menjadi lebih ringan, lembut, dan tidak luntur sehingga lebih nyaman dikenakan, tanpa meninggalkan motif tradisi yang menjadi identitasnya. Sehingga tenun Tanimbar yang awalnya hanya dibuat dan dipasarkan dalam bentuk kain sarung, kini menjadi kain tenun yang siap digunakan sebagai ragam produk fashion.

Program pengembangan tenun Tanimbar antara lain dengan pelatihan pewarnaan, penggunaan benang dengan kualitas lebih baik, penerapan teknik tenun dengan alat tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) untuk melengkapi alat tenun gedogan, dan eksplorasi desain motif. Seperti dalam hal warna, tenun Tanimbar yang awalnya hanya terpaku pada warna gelap seperti coklat, hitam, merah, dan biru tua, kini dikembangkan dengan pilihan warna terang.

Pembinaan secara berkelanjutan tersebut mampu meningkatkan kreativitas dan kompetensi penenun di Tanimbar. Hasil pengembangan tenun Tanimbar pun telah dilirik oleh kalangan desainer untuk diaplikasikan dalam bentuk ready to wear. Bahkan motif tenun Tanimbar pun telah terpilih sebagai salah satu seragam yang digunakan oleh Presiden Jokowi dan para jajaran kabinetnya.

Untuk lebih mengenal hasil pengembangan tenun Tanimbar, Alun Alun Indonesia yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tanimbar dan Dekranas menggelar acara talk show dan fashion show Tenun Tanimbar di Palalada, Grand Indonesia. Dalam sesi talk show yang dipandu oleh Pincky Sudarman (CEO Alun Alun Indonesia) ini menghadirkan pembicara Wignyo Rahadi (Pembina Pengrajin Tenun Tanimbar) dan Elisabeth Werembinan (Kepala Dinas Koperasi & UKM Kab. Maluku Tenggara Barat).

Dalam sesi fashion show menghadirkan koleksi bertema Metamorphoseast rancangan desainer Wignyo Rahadi yang menggunakan material tenun Tanimbar hasil pengembangan dengan motif Ulerati. Selain memiliki karakter yang kuat, motif Ulerati yang bermakna ulat kecil, mengandung filosofi kecintaan masyarakat Tanimbar terhadap lingkungan hidup dan apresiasi terhadap perubahan menuju arah lebih baik seperti metamorfosa yang dialami oleh ulat sebagai bagian dari proses alami kehidupan.

Motif Ulerati yang berupa barisan ulat-ulat kecil menyerupai garis panjang menerapkan teknik pengerjaan yang terbilang sulit dan membutuhkan waktu cukup lama. Tenun Tanimbar yang terbuat dari bahan katun dan sutera dalam dominasi warna biru dikombinasi dengan warna abu-abu tersebut diaplikasikan dalam desain yang terinspirasi pakaian tradisi Jepang, yakni kimono, hakama, dan obi yang elegan.

Koleksi Metamorphoseast ini akan ditampilkan pula dalam fashion show yang diselenggarakan oleh KBRI di Tokyo, Jepang pada tanggal 6 April 2017.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here