Omah Sinten Heritage Hotel & Resto

0

Sebuah bangunan yang ‘njawani ‘, cantik dan memancarkan aura Solo yang kuat tampak di ujung koridor Ngarsapura. Bersanding dengan bangunan-bangunan modern di sekitarnya, Omah Sinten tetap gagah tak ikut hanyut  derasnya arus modernitas yang menembus setiap lini.

Menjadi benang merah diantara Pura Mangkunegaran dan Pasar Antik Triwindu yang terletak di  koridor Ngarsapura sebagai kawasan budaya, di bawah besutan tangan dingin H. Slamet Rahardjo,  Omah Sinten berpijar dengan cahayanya sendiri. Omah Sinten menjaga ‘rumah’ budaya Jawa yang semakin dewasa ini malah menjadi tamu di kota sendiri.

Pemikiran apa yang melatarbelakangi mendirikan  heritage hotel dan restaurant di daerah yang sangat potensial untuk sebuah bisnis?

Sebelum kawasan ini menjadi kawasan budaya, koridor Ngarsapura, Walikota (Joko Widodo) dan Wakilnya (FX. Hadi Rudyatmo) mempunyai gagasan untuk membuat daerah Mangkunegaran ini sebagai kawasan budaya. Dengan Pasar Antik Triwindu dan Pura Mangkunegaran sebagai porosnya. Kami yang mempunyai lahan di sini juga berpikir untuk mendukung program tersebut. Karena akan dibuka sebagai kawasan budaya, kami memikirkan bisnis yang berkaitan dengan budaya juga. Dalam bayangan kami, menyambungkan antara Triwindu dan Mangkunegaran di tengah-tengah kota tentu masyarakat rindu akan sesuatu yang ‘hilang’ di masa lalu. Sarat bangunan serba modern, bagaimana memunculkan sesuatu masa lalu tetapi menjadi gaya hidup kekinian. Akhirnya ketemulah konsep dasar heritage hotel dan restoran.


OmahSinten memiliki 10 kamar Heritage Room yang siap mengakomodir para tamu yang mencintai konsep tradisional Jawa. Bisa dilihat dari interior di setiap kamar yang kami buat, mulai dari rangkaian furniture bergaya Jawa klasik namun terkesan mewah, separuh dinding kamar dilapisi oleh ukiran kayu jati yang menandakan kecintaan terhadap unsur alam, wall ceiling atau dinding langit-langit berhiaskan kain batik dengan motif menawan. Disediakan guling disetiap kamar yang saya kira tidak semua hotel memilikinya, bagi orang Indonesia guling merupakan pelengkap tidur yang paling diminati. Maka jelas sekali unsur heritage  yang diusung OmahSinten terasa kental.

Sekali lagi, budaya yang ingin kami pertahankan didalam membuat konsep hotel dan restoran ini.

Kami ingin membangun suatu life style atau gaya hidup  yang benang merahnya kita tarik dari masa ke masa dan kita kemas secara kekinian.

 

Bagaimana benang merah antara Pura Mangkunegaran, Omah Sinten dan Triwindu?

Mangkunegaran dan Pasar Antik Triwindu adalah satu kesatuan dan kehadiran Omah Sinten itu sebagai penyatu. Mangkunegaran dengan sejarahnya yang sangat luar biasa, Triwindu beraktivitas dengan benda antiknya. Nah, dimana bisa menikmati kuliner ketika kejayaan dari era Mangkunegoro I hingga sekarang?. Di sinilah letak Omah Sinten, kami berkomitmen menggali kuliner-kuliner yang pada waktu itu populer, kita kemas secara kekinian tanpa meninggalkan unsur sejarahnya. Ternyata setelah kita riset kuliner masa lalu hasilnya luar biasa. Makanan yang di masa lampau hanya bisa dinikmati di dalam Pura dan Keraton, kita sajikan lagi sekarang. Seperti Sop Lidah Tomat, Sop Kacang Merah, Garang Asem Bumbung hingga Nasi Golong dari Mangkunegaran. Dari Keraton Kasunanan juga ada menu populer seperti Sate Pentul. Menu-menu ini tidak hanya populer tetapi mempunyai filosofi. Seperti Nasi Golong yang menemani perjuangan RM Said (Pangeran Samber Nyawa) melawan penjajah pada masa itu. Menu ini menjadi favorit di tempat-tempat yang beliau singgahi ketika beliau bergelirya. Dengan lauk sederhana yaitu urap sayuran, suwiran ayam, tahu tempe goreng, telur, sayur loncom dan bahan-bahan seadanya yang mudah di dapat mengingat saat itu adalah masa perjuangan. Ternyata Nasi Golong yang bentuknya bulatan seperti bola kecil ini mempunyai filosofi persatuan, beliau ingin rakyatnya bersatu untuk melawan penjajahan.

Sate Pentul juga mempunyai sejarah sendiri. Sate yang terbuat dari daging sapi ini dahulu di masak oleh Sinuhun PB X setiap Maulud Nabi Muhammad SAW. Pada waktu upacara adat Adang Ageng yang diadakan setiap 8 tahun sekali pada tahun Dal untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW, sate pentul selalu hadir dan terkadang Sinuhun menanak nasi putih yang disajikan dengan Sate Pentul dengan menggunakan tempat untuk menanak nasi yang disebut Kyai Duda .

Di Solo juga ada icon yang populer dari para saudagar yang terkenal di Laweyan yaitu menu  favorit Sop Buntut Mbok Mase.

Omah Sinten tidak hanya menyajikan makanan saja ternyata hampir semua makanan di Omah Sinten ini mempunyai sejarah. Apakah ini salah satu cara mendokumentasikan sejarah?

Salah satu tujuan Omah Sinten adalah mendokumentasikan dan menampilkan kembali apa yang dulu pernah ada dan sekarang hampir punah terlupakan. Kita riset, kita munculkan lagi dengan kemasan yang relevan dengan jaman saat ini. Tugas kita adalah bagaimana menu-menu ini bisa dinikmati semua golongan, dari anak-anak sampai orang tua sehingga produk kuliner ini tidak di dominasi produk dari luar. Sebenarnya kita kaya sekali produk kuliner yang bisa kita kembangkan lagi.

Selain menghadirkan kembali kuliner bersejarah, cara apa lagi yang bisa kita tempuh untuk untuk mendokumentasikan hal-hal bersejarah lainnya?

Kami sudah mempunyai rencana untuk membuat dokumentasi dalam bentuk video,film yang berisi tentang sejarah kota Solo ini dan sebagainya. Seperti keris, wayang, gamelan, topeng, batik. Ini sangat penting. Dokumentasi dalam bentuk film ini bisa lebih diterima. Seperti sejarah kota Solo, anak-anak kita saat ini apa ada yang tahu bagaimana sejarah sebenarnya berdirinya kota ini. Seandainya ada film ini bisa diputar untuk edukasi terutama pada anak-anak. Ketika orang tahu sejarah kotanya ia akan mencintai, merawat berujung pada tertatanya kota. Sejarah tentang batik, selama ini yang ada baru ‘how to make’ bukan filosofinya, makna motifnya, asal muasal kain ini. Juga sejarah tentang keris. Orang akan menyebut Jepang sebagai penggagas industri baja. Padahal Indonesia pada abad 8 sudah mendapatkan ilmu Metalurgi produknya berupa keris. Kalau sekarang yang terkenal malah negara lain berarti ada yang salah karena kita sudah menemukan ilmu itu.

Begitu juga dengan gamelan, bagaimana saat ini negara lain mulai ‘mengancam’ dengan tag line nya Sound of Malaysia dengan gambar gamelan sebagai icon nya. Apakah nanti kita akan teriak-teriak lagi ketika akhirnya di sana gamelan lebih mendominasi. History of Gamelan ini nantinya akan menjadi dokumentasi nasional sebagai sarana edukasi. Wayang juga akan kita buatkan video, bagaimana sebuah kulit hewan bisa di ukir hingga menjadi suatu karya menakjubkan. Yang terakhir adalah sejarah tentang topeng. Niat Omah Sinten adalah merealisasikan film-film ini. tetapi terbentur masalah biaya yang ternyata tidak sedikit.


Pemerintah sendiri saat ini tertatih-tatih melindungi dan nguri-nguri sejarah budaya yang kita punyai, bgaiamana itu Pak?

Ini masalah komitmen. Kekayaan kita tidak hanya sumber daya alam tetapi sejarah, budaya bangsa ini merupakan kekayaan. Harapan saya ke depan semoga kita dipimpin oleh pemimpin yang mempunyai komitmen terhadap ekonomi kreatif .Ekonomi kreatif yang sumber inspirasinya dari budaya. Masing-masing daerah di Indonesia yang kaya akan budaya.. Komitmen pemerintah inilah yang kita butuhkan, perekonomian yang berdasar pada budaya sehingga kita menjadi tuan di rumah kita sendiri.


Omah Sinten sendiri bisa dibilang sebagai salah satu dokumentasi dengan menghadirkan rumah joglo sarat dengan kayu, bagaimana filosofinya?

Omah Sinten ini bukti nyata bahwa nenek moyang kita seorang arsitek yang luar biasa. Tidak ada di dunia manapun kecuali di Indonesia dan di Jawa membuat satu bentuk bangunan dengan ciri khas Jawa penuh dengan makna, filosofi, keseimbangan bahkan tanpa pondasi. Yang luar biasa itu tanpa pondasi dan tanpa paku karena semuanya berupa pasak. Itu yang diciptakan ole leluhur kita. Kalau sekarang terkenal dengan gaya minimalis, modern, itu kreasi. Berbicara tentang Omah Sinten ini tidak bisa meninggalkan Drs. H. Putut Pramono (dosen dan budayawan) dan Ahmad Zaini, (sahabat karib saat masa kecil) yang ikut menterjemahkan ide, pemikiran, gagasan dan konsep saya untuk merealisasikan Omah Sinten. Beliau-beliau ini paham benar bagaimana mewujudkan konsep saya terhadap OmahSinten. Kami hadirkan di sini agar masyarakat itu masih tetap mengenal tentang joglo khususnya anak-anak. Sejarahnya joglo itu seperti apa, rumah jawa itu bagaimana. Unsur yang kita gunakan untuk membangun Omah Sinten ini semuanya unsur alam. Kita berkomitmen tidak menebang pohon, tidak menggunakan kayu baru, kita mengumpulkan kayu jati bekas sebagai bahan bangunan sehingga tercipta green konsep. Atmosfir yang kita munculkan harapan kita membuat orang yang melihat ke sini menemukan sesuatu yang hilang.


Ke depan biar semakin kental aura koridor Ngarsapura sebagai kawasan heritage, mau dibawa kemana?

Saya berusaha untuk menyambungkan kehidupan budaya antara Omah Sinten, Mangkunegaran dan Triwindu secara utuh. Mangkunegaran dengan budaya tari-tarian yang sering ditampilkan, Omah Sinten dengan kulinernya dan Triwindu dengan barang-barang antiknya. Sehingga wisatawan atau anak sekolah yang ingin mempelajari, berada di kawasan ini mendapatkan semuanya tentang sejarah, kuliner, dan produk budayanya. Mimpi saya ke depan di kawasan ini sarat terdengar alunan musik yang mencerminkan budaya keraton khususnya gamelan Jawa. Aura ‘adem dan pelan’ dari sebuah kota bisa dirasakan di sini, setiap hari ada anak-anak berlatih menari. Namanya kawasan koridor Ngarsapura harusnya begitu, tidak malah begitu masuk ke sini itu malah mendengar suara knalpot dan semoga ada jalan untuk menuju ke sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here