“Perempuan ini Feasible tapi Belum Bankable”

0

Jakarta – Mendengar paparan Ir Nita Yudi, Ketua DPP IWAPI, kita akan mendapat banyak informasi mengenai tangguhnya perempuan perngusaha Indonesia dalam berusaha dan berwirawasta.

Sebagai sebuah wadah bagi wanita pengusaha di Indonesia, IWAPI sadar betul bahwa kekuatan yang disatukan akan memiliki daya dorong yang dahsyat. Apalagi, perempuan Indonesia yang bergerak di dunia usaha ini yang bergerak dalam skala mikro dan menengah (UKM) mencapai 52 juta, dan 60 persen darinya adalah kaum perempuan.

“60% UKM itu perempuan pengusaha, pada tahun 1998, jumlah perempuan pengusaha ukm 49,9 juta pengusaha kecil, 60% pemiliknya dalah perempuan, artinya, perempuan memiliki kontribusi besar untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia”, urai lulusan teknik Lanskap UI ini.

Kendati demikian, Nita Yudi mencatat, perempuan dengan nilai NPL (non-performance loans, dari sisi kelancaran bayar) yang 0% itu belum bankable, padahal mereka sangat feasible usahanya. artinya, dari kelancaran bayar, perempuan itu tepercaya atau kredibel. Perempuan berdaya, keluarga otomatis akan sejahtera,papar perempuan yang juga Wakil Pimpinan Pemberdayaan Perempuan KADIN ini.

Melek TI sebagai Prioritas

Ditemui di sela Rapat Kerja DPW IWAPI DKI Jakarta pada Kamis, 7 September 2017 di Balaikota DKI, perempuan berputra dua ini memaparkan kerja organisasi maupun obsesinya dalam rangka menjalankan amanahnya sebagai Ketua Umum IWAPI. Dalam menjalankan roda organisasi perempuan pengusaha yang menghimpun pengusaha kecil, menengah, hingga besar tersebut, ia mengefektifkan visi IWAPI yang terdiri dari Peningkatan Sumber Daya, Peningkatan Marketing, dan Peningkatan Financing (pembiayaan). “Karena itulah kita rutin mengadakan pelatihan demi pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dan jaringan anggota,”urai Ibu berputra dua ini.

Pada Rakerda DPW IKAPI DKI ke-4 Jakarta kali ini, pembahasan ditujukan kepada peningkatan melek TI dengan mendatangkan narasumber dari Telkom serta peningkatan bankable para perempuan pengusaha dengan mengundang PT Commonwealth Bank. Memang, Nita Yudi coba mendorong para perempuan pengusaha agar melek TI dalam kepemimpinannya yang akan berakhir pada tahun 2018 mendatang. Baginya, datangnya era Teknologi Informasi merupakan berkah tersendiri bagi pengusaha karena dengan adanya digital marketing, cara beriklan dan melakukan pemasaran akan lebih mudah, efektif sekaligus murah, dan berjangkauan global.

Maka, dia melakukan pelatihan TI selama 5 hari, bekerjasama dengan Face Book selama 1 hari. Nita pun pintar mengendus dan menangkap peluang dengan masuknya dirinya ke AWEN (Association Women Entrepreuneural Networking) di Filipina, juga mengirimkan delegasi dagang ke negara yang membutuhkan barang ekspor Indonesia untuk dipelajari feasibility maupun cara masuknya ke negara yang bersangkutan. “Belum lama ini kami mengirim delegasi ke Canada, karena mereka tertarik dengan dengan mata dagangan kopi kita,” ujarnya antusias.

Pada akhirnya, ia berharap, bahwa pemerintah mendukung niat baik IWAPI ini dalam rangka mendukung peningkatan struktur ekonomi Indonesia. “Bayangkan, KUR (Kredit Usaha Rakyat) di negeri kita ini rate-nya 9%, sementara di Thailand berani 2,5 persen. Saya minta pada Pak Darmin (Menko Ekuin) agar kita separohnya sajalah rate-nya dari 9 persen itu. Thailand, yang bukan negeri muslim saja bisa mengekspor makanan halal secara gencar dan berhasil karena pemerintahnya memberi keringanan kredit kepada UKM-nya”, tegasnya.

Harapan baik dan optimistis tentunya merupakan sifat pengusaha. Dan IWAPI sebagai salah satu sayap pengusaha ini coba menjalankan perannya dengan penuh kesungguhan dan tangung jawab. (Wakhid Nur E)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here