Pesta Budaya di KKI 2018

0

Lilu, seorang perupa mural tengah menggoreskan kanvasnya, melukis tari Campak asal Bangka. Ia memadukan busana Melayu dalam aneka warna.

Di beberapa gambarnya terdapat aksen busana klasik gaya Portugis. Fantasi senimannya pun tak masalah saat memperlihatkan beberapa penarinya berkepala binatang sebagai sisi kemenarikannya. Di sebelah-menyebelah Lilu, seniman asal Bali kelahiran Jawa, rekan-rekan seniman lainnya juga asyik mengguratkan kanvas di sepanjang koridor kantor Kemdikbud tersebut.

Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018: Berkepribadian dalam Kebudayaan itu akan berlangsung dari tanggal 5-9 Desember 2018 di area Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jalan Jenderal Soedirman, Jakarta Selatan. Berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun lalu yang kental dengan diskusi ilmiah, kali ini penyelenggaraan kongres lebih tampak santai.

Hai itu tidak lepas dari KKI 2018 yang dalam kongresnya menjalankan regulasi baru, yakni UU No 5, 2017 yang mata acaranya tak sekadar paparan materi. Dalam sambutannya, Dirjen Sejarah, Hilmar Farid, Ph.D itu memaparkan 300 dari 516 kota/kabupaten yang telah menyusun PPKD (Pusat Pelatihan Kerja Daerah). Dan kerja ini akan diteruskan hingga menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Diskusi ilmiahnya pun tak menyertakan makalah penuh catatan kaki, namun didukung dengan citra visual di layar besar LCD. Salah satunya adalah ceramah fisikawati-astronom ITB, Premana W. Premadi, Ph.D yang tengah mendedahkan “anthropocene”, yang mendapat tanggapan antusias dari peserta yang memang peminat dan pelaku kebudayaan itu.

Anthropocene adalah nama yang diusulkan untuk lapisan geologis bumi terkini, yang tampilan dan dinamikanya sudah mengalami banyak perubahan akibat eksploitasi yang berlebihan. Kapan epos anthropocene ini bermula masih debatable, namun umumnya orang sepakat bahwa daya dukung bumi telah berkurang akibat keserakahan manusia.

Jacky Manuputty,asisten khusus Presiden RI tengah berceramah perihal “Resolusi Konflik Berbasis Adat-Istiadat” di Plaza Insan Berprestasi, Kemdikbud

Ia mengusulkan, hendaknya manusia yang berakal budi dan berinteligensia ini lebih bertanggung jawab, agar bumi dijaga kesetimbangannya. Respek manusia pada alam harus dikeembalikan. Tradisi arketipal dalam budaya modern sekarang ini perlu dihidupkan bagi kelangsungan hidup manusia yang berkualitas.

Suasana di area Kemendikbud pun bagai pesta kebudayaan. Sore itu, dipentaskan wayang Sasak, yakni wayang kulit dari suku Sasak, Nusa Tenggara Barat, yang mengambil kisah dari Hikayat Amir Hamzah. Sementara di pelataran, pesta musik tengah disiapkan untuk pementasan pada malam hari, baik orkestra, musik tradisional, serta tarian.

Acara masih berlangsung hingga empat hari mendatang, yang akan menampilkan puncak-puncak tradisi lokal, yang menjadi untaian indah dari zamrud kultural nusantara. Wakhid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here