(R)evolusi Gaya dan Warna Batik Ngawi

0

Bulir padi yang tertera dalam salah satu motif batik perajin Ngawi, menjadi simbol dan harapan Ngawi pada kemakmuran yang bertumpu pada kreasi busana batiknya.

Malam itu, 5 Oktober 2019, Alun-Alun Ngawi, para undangan, serta rakyat yang menonton menjadi saksi atas tekad para pemangku kepentingan. Pemkab Ngawi, para desainer (lokal), dan industri batik Ngawi telah berazam menuju dunia, Batik Ngawi go to the world, juga kehendak mengarungi Revolusi 4.0 yang berbasis pada dunia digital.

Selama 10 tahun terakhir, Bupati Ngawi, Ir. Budi Sulistiono, telah mendukung serta mengawal batik kebanggaan masyarakat yang kotanya dilintasi oleh dua bengawan, Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, ini.

Malam itu merupakan perhelatan Ngawi Batik Fashion yang ketujuh, yang secara rutin diadakan setiap tahun semenjak tahun 2010. Rentang waktu tujuh tahun tersebut telah meningkatkan jumlah industri batik, dari semula hanya 1, kini telah meningkat menjadi 11 buah.

Pembangunan kapasitas usaha, penguatan jaringan, kemampuan sumberdaya insani, maupun langkah pemasarannya pun turut berkembang. Harapan untuk mencapai kemakmuran lewat kreasi busana batik.

Tak hanya melulu asyik dengan motif lokal dan pemanfaatan kekayaan warna alam, para pelaku usaha batik Ngawi pun telah melibatkan partisipan desainer maupun model, supermodel, dan Putri Miss Indonesia maupun Miss Universe. Semua itu tentunya telah memperkaya wawasan dan kekayaan khazanah kota kecil pintu gerbang menuju Jawa Timur di kawasan selatan ini.

Hal tersebut tampak dalam perhelatan Ngawi Batik Fashion malam itu. Para desainer luar maupun lokalnya tampak berkontestasi demi mementaskan pemuliaan busana serta segenap komplementernya dari segi gaya, ragam warna dan bahan, namun tetap bersetia dengan kekayaan lokalnya, yakni batik dengan motif-motif yang diambil dari kekayaan lokalnya.

Akankah (r)evolusi ini akan menjadikan Ngawi sebagai salah satu pusat fashion batik, setelah tekad dicanangkan dalam kegembiraan dan hasrat tantangan? Mari kita tunggu. Teks: W/H; Foto: Ade Oyot

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here