“Singularity” dalam Trend Forecasting 2019/2020

0

Selain diterjemahkan sebagai keunikan, singularitas dalam terminologi fisika kuantum juga mempersembahkan arti sebagai ketika ruang-waktu berakhir.

Lalu Samuel Taylor Coleridge dalam Omniania membahasakan secara imajinatif ketika segenap alam raya ini hanya bagaikan sebuah dataran, dan jarak dari satu planet ke planet yang lain hanyalah sebesar pori-pori sebutir pasir, dan ruang di antara satu sistem dengan sistem yang lain tidak lebih besar dari ruang di antara sebutir pasir dengan pasir di sebelahnya.

Baik dari sisi keunikan maupun keintiman berdasarkan fisika kuantum itu tampak mewujud dalam Seminar Trend Forecasting 2019/2020 di Main Atrium 23 Paskal Shopping Centre, Bandung. Seminar tren ini menghadirkan pembicara Nuniek Mawardi selaku Konsultan Indonesia Trend Forecasting dan Ketua IFC Chapter Bandung, Ali Charisma selaku Fashion Designer dan National Chairman IFC, dan Tri Anugrah selaku Trend Expert Indonesia Trend Forecasting.

Olah busana sendiri merupakan aktivitas damai-nyaman-menginspirasi. Konfliknya pun relatif minimal, pun ketika harus bertabrakan dalam warna, keistimewaan etnik, aliran agamis maupun antargenerasi; juga ketika masa lalu, masa kini, dan masa depan disuakan dalam ruang dan waktu yang sama. Kali ini, dalam nujuman para kreator wastra dan busana, “singularity” diturunkan dalam empat tren utama.

Pertama, Exuberant (riang-bergairah), menandai sikap positif dan antusias dalam memandang kecerdasan intelektual (AI) sekaligus perasaan santai. Tema ini menunjukkan keceriaan dan optimisme lewat permainan warna yang colorful dengan unsur seni urban atau futuristik dan perpaduan gaya sporty yang santai dengan gaya formal yang cenderung feminin.

Kedua, Neo-Medieval mengusung unsur romantisme Abad Pertengahan, ketika para prajurit perang dalam benteng-benteng pertahanan saling adu strategi untuk menyerang maupun bertahan. Secara visual, tema ini memunculkan kesan gaya khas pejuang futuristik, kuat, tegas, dan elegan dengan palet warna yang netral dan membumi. Adapun busana-busana pilihan pun sebagian merupakan refleksi khas armor dan simpel

Ketiga, Svarga, bagaikan bumi yang flat tanpa perbedaan ketika beragam tampilan yang beda itu melebur atau berakulturasi secara harmonis. Keterbukaan ini menciptakan multikulturasi, manakala tabrak corak antaridentitas etnis berpadu secara selaras-seimbang di antara objek busana yang tengah dikontestasikan.

Keempat, Cortex, ketika otak, unsur penting dalam organ manusia, itu berhasil divisualkan dalam olah digital sebagai ribuan sulur yang beraneka warna dan saling menyambung. Alhasil, dalam proses riset desain, busana yang terinspirasi daripadanya merupakan model dan bentuk busana abstrak terstruktur, tidak terduga, fleksibel, dan dinamis dalam siluet maupun tekstur.

Tren memang tak hanya terkait perubahan elemen desain, seperti: warna, bentuk, tekstur, dan volume, namun juga perubahan dinamika gaya hidup dan pola pikir masyarakat dalam berbagai aspek umum kehidupan, seperti: sosial, politik, ekonomi, lingkungan, hingga perkembangan teknologi.

Dengan memahami gaya hidup masyarakat, para produsen fashion dapat memenuhi produk yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen. “Diharapkan, Indonesia Trend Forecasting dapat menjadi acuan berkarya bagi pelaku ekonomi kreatif pada subsektor mode,” pungkas Dina Midiani, Koordinator & Trend Expert Indonesia Trend Forecasting. Wakhid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here