Sisi Fashion Wanita di Masa Pendudukan Jepang

0

“Njonja Ir. Soekarno bergirang hati mengenakan kimono.” Demikian keterangan dalam sampul majalah Djawa Baroe, yang terbit di masa pendudukan Jepang, 1942-1945.

Saseo Ono, seorang seniman grafis yang mengikuti perang di Jawa menggambarkan betapa modisnya gadis-gadis Jawa di Batavia. Mereka seolah tak ambil pusing dengan pengambilalihan kekuasaan Kolonial Hindia Belanda berkat kemenangan tentara ke-16 Jepang.

“Di atas trotoir perempuan yang berambut merah jagung berjalan dengan rok yang berbunga-bungaan berkibar melonjak sambil menampakkan dengkulnya dari bawah rok tadi. Ada pula yang dengan dadanya yang sintal di atas sepeda sambil berkata ‘daaag’,” catatnya.

Sang seniman ini menggambarkan kartun naturalistik, wanita berhak tinggi, bertudung, dan berkaca mata hitam guna mengantisipasi panas tropis yang menyengat. Mereka bergaya dengan jalan kaki maupun bersepeda yang dipacu kencang dan hati riang.

Tak sampai di situ, Jalan Noordwijk (kini Jalan Juanda, Jakarta) terpapar indah, penuh dengan kedai besar, toko pakaian perempuan dan toko makanan berjajar-jajar dengan etalase yang sangat indah, kendati ditingkahi pula oleh wanita yang tiada risih mandi di kali yang membelah sepanjang Jalan Molenvliet (kini Jalan Gajah Mada, Jakarta).

Lukisan grafis, catatan dan foto jurnalistik, maupun pamflet pada masa pendudukan Jepang ini sangat bias dengan propaganda. Jepang coba menggambarkan Ibu Fatmawati, istri Bung Karno, yang tertawa lebar saat dirinya dikenakan kimono, busana wanita tradisional Jepang. Sementara para wanita lainnya digambarkan berbusana kebaya kutu baru, baik sebagai ibu rumahtangga maupun para wanita petani. Menanam, memanen, menabung, berbaris, semua dalam rona cantik dan nada yang riang gembira.

 

Setidaknya, itulah yang tampak dalam pameran seni rupa masa pendudukan Jepang yang digelar di Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Para peminat seni grafis maupun kesejarahan bisa melihat pameran yang dimulai pada 2 hingga 10 Agustus 2018 mendatang.

Pameran bertajuk “Jagung Berbunga di antara Bedil dan Sakura” ini diadakan untuk memperingati hubungan Indonesia dalam lintasan sejarah. Jepang ingin menggambarkan bahwa masa pendudukannya tak semata bedil yang menyalak. Ada pula jeda saat bunga sakura yang tengah memekar merah, ditingkapi senyum dan semangat para gadis dan kaum wanita yang mengabdi demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. Wakhid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here